KHOTBAH JUM’AH 10 FEBRUARI 2017

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ  أَمَرَنَا بِتَرْك الْمَنَاهِيْ وَفِعْلِ الطَّاعَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَاِبهِ الهَادِيْنَ لِلصَّوَابِ وَعَلَى التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ اْلمَآبِ.اَمَّا بَعْدُ، فَيَااَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، اِتَّقُوْااللهَ حَقَّ تُقَاتِه وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَأَنـْتُمْ مُسْلِمُوْنَ فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sidang Jumat rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan kualitas iman dan takwa kita kepada Allah swt. dengan selalu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, salah satu perintah Allah kepada orang mukmin adalah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, yaitu mengajak atau menegakkan kebajikan dan mencegah kemungkaran atau kemaksiatan. Sebagaimana firman Allah:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ [آل عمران: 110]

Kalian adalah umat yang terbaik untuk manusia, yang menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imron : 110)

Selain itu Allah juga berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [آل عمران: 104]

“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeruh kepada kebajikan, menyeruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali Imran : 104)

Sudah jelas sekali dalam ayat tersebut bahwa Allah memberi perintah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar kepada kita sebagai umat muslim yang terbaik yaitu umat Nabi Muhammad saw. Namun kewajiban tersebut apakah ditujukan kepada setiap individu orang Islam(Fardhu Ain) atau cukup sebagian orang muslim sehingga yang lain gugur (Fardhu Kifayah), para Ulama’ berbeda pendapat dalam hal ini, ada yang mengatakan Fardhu Ain, ada yang mengatakan Fardhu Kifayah.

Kaum Muslimin yang dirahmati oleh Allah

Mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran merupakan ciri utama masyarakat orang-orang yang beriman, maka tidak heran jika banyak sekali masyarakat muslim atau ormas Islam di dunia maupun di Indonesia menjadi masyarakat yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, karena kebaikan negara dan rakyat tidak sempurna kecuali tanpa adanya Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.

Agama Islam adalah agama yang sangat memperhatikan penegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan hal tersebut merupakan pilar dasar dari pilar-pilar akhlak yang mulia lagi agung. Kewajiban menegakkan hal itu adalah merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa ditawar bagi siapa saja yang mempunyai kekuatan dan kemampuan melakukannya. Sesungguhnya diantara peran-peran terpenting dan sebaik-baiknya amalan yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, adalah saling menasehati, mengarahkan kepada kebaikan, nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Namun realitanya masyarakat Islam banyak yang melakukan kekerasan dan anarkhis dalam rangka Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, sebagian dari mereka berdalih karena mengamalkan hadits Nabi yang sangat masyhur tentang praktek Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, yaitu:

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ .رواه مسلم

“Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Imam Muslim)

Hadits tersebut disalah pahami oleh sebagian orang bahwa setiap orang yang melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar harus dengan tangannya dulu (anarkhis) baru dengan lisan, dan mereka memahami dengan tangan itulah mereka termasuk paling kuatnya iman, karena didalam hadits disebutkan bahwa Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dengan hati merupakan paling lemahnya Iman.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Imam Ghozali menjelaskan panjang lebar tentang runtutan fase Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam kitab monumentalnya Ihya’ Ulumiddin, yang kesimpulanya adalah fase Amar Ma’ruf Nahi mungkar terdiri dari beberapa fase yaitu; yang pertama : at-Ta’rif (memberikan pengertian), yang kedua : al-Wa’dz (memberi nasehat), yang ketiga: at-Takhsyin fi al-qaul (memberikan kritik dan kecaman keras) yang keempat : al-Man’u bi al-qahri (melakukan pencegahan secara paksa). Menurut Imam Ghozali fase pertama dan kedua bisa dilakukan oleh siapa saja, adapun fase yang ke tiga dan keempat khusus dilakukan oleh pihak yang mempuanyai kekuasaan atau pihak yang berwenang bukan sembarang oleh bisa melakukanya.

Maka dari itu jelas bahwa perintah Nabi tentang Amar Ma’ruf dengan tangan adalah ditujukan kepada pihak yang berwenang yaitu penagak hukum dan masyarakat biasa tidak boleh melakukan anarkhis dan main hakim sendiri, dan jika dilakukan oleh selain pihak yang berwenang maka akan dikhawatirkan terjadi fitnah dan kekacauan, padahal kita harus tahu bahwa dalam rangka Amar Ma’ruf Nahi Mungkar tidak boleh menjadikan kerusakan pada diri sendiri atau orang lain dan tidak boleh menjadikan kemungkaran yang baru, sebagaimana keterangan dalam kitab I’anatu at-Tholibin karya sayyid Bakri

Semoga Amar Ma’ruf Nahi Mungkar tidak disalah fahami oleh sekelompok masyarakat Islam, dan semoga kita bisa mengamalkan kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Mungkar yang sesuai dengan syariat Islam.

 

بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين

Post comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2015 Binaumma Tebuireng. All rights.